Beranda | Artikel
Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)
8 jam lalu

Akidah beliau

Salah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.

Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.

Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.

Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.

Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.

Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”

Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,

ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ

“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.

Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”

Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinya

Syekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).

Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.

Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.

Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.

Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunya

Syekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.

Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.

Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,

لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-

“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.

Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.

Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.

Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.

Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah Haram

Setelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:

Mengajar tafsir di Masjid Nabawi

Beliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.

Mengajar di Darul Ulum (Madinah)

Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.

Mengajar di Riyadh

Pada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.

Selain itu, di Riyadh beliau juga:

  • Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.
  • Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.
  • Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.

Mengajar di Universitas Islam Madinah

Pada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.

Safari dakwah ke Afrika

Pada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).

Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)

Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.

Anggota Hai’ah Kibaril Ulama

Pada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.

Anggota pendiri Rabithah ‘Alam Islami

Beliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.

Kezuhudan dan sikap wara’-nya

Syekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.

Beliau pernah berkata,

الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ

“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”

Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.

Beliau juga berkata,

وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ

“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”

Karya-karya

Syekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.

Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.

Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.

Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.

Wafat

Syekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.

Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari:

https://www.alukah.net


Artikel asli: https://muslim.or.id/114576-biografi-muhammad-al-amin-asy-syinqithi-bag-2.html